Weekend ini begitu jenuh bagiku. Tugas-tugas perkuliahan banyak. Sekarang semuanya masih menumpuk. Genap separuh sudah dari total mata kuliah yang saya ambil ada tugas panjang. Sialnya setiap tugas itu punya hambatan tersendiri. Fotografi ada tugas hunting terkendala pengoperasian kamera saja belum paham. Psikologi komunikasi membuat penelitian perilaku individu sudah seminggu belum mendapat subjek dijadikan penelitian. Kewirausahaan malah menjajah semua jadwal kuliah lain. Belum lagi mata kuliah teori-teori sosial yang mengharuskan memahami materinya besok Jum’at pagi.
Bagaimana dengan semua ini saya tidak jenuh. Semua energi terperas buat pelajaran perkuliahan. Lebih berat lagi penugasan organisasi tidak boleh tertinggal. Entah apa sebenarnya yang salah dengan waktu ini. Dulu tidak sesibuk sekarang,
tetapi menjelang Ujian Tengah Semester (UTS) semua ramai-ramai bilang tugas. Atau mungkin semua semua orang dalam institusi ini sudah menjadikan hari baik. Kalau orang jawa bilang naas dan hitunganya sudah pas untuk melakukan pekerjaan.
Dari fenomena pengeroyokan tugas ini menimbulkan keruwetan waktu. Saya menjadi semakin berfikir keras bagaimana mengolah waktu secara pas. Memang sih bila dilihat dari satu sisi saja tidak terlalu merepotkan. Misalnya mata kuliah kewirausahaan memberikan tempo dua minggu membuat desain produk, video, media promosi dan laporan. Kelihatanya cukup lama tetapi lima mata kuliah lain memberikan tugas serupa. Alhasil terjadilah amburadul manajeman waktu. Entah sekarang waktunya membaca, atau belajar mata kuliah besok menjadi tidak jelas. Adanya setiap hari yang seharusnya belajar menjelma menjadi tugas “apa yang belum saya selesaikan?”
Parahnya carut marut waktu dengan dampak kerusakan manajemen waktu sudah cukup jelas. Dari awal saya kuliah niatnya ingin belajar dan memahami materi perkuliahan. Nyatanya dengan semua tuntutan itu telah merubah keadaan. Pemahaman dan pengertianku tidak lebih dari sebatas tugas-tugas dari dosen. Hasrat menimba pemikiran maupun pengalaman lebih harus ditanggalkan. Semua sifatnya berubah seperti kapitalis, siapa punya modal dia pemenang kehidupan. Disini siapa yang sendiko dawuh kata dosen dia yang selamat.
Akhirnya dari keadaan ini berimbas pada tubuh. Saya merasa cepat sekali merasa capek dan kelelahan. Kepenatan yang saya rasakan memang bukan dari banyaknya tugas dari dosen. Melainkan penat karena menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Pada tahap penyelesaian sering memakan waktu banyak. Saya sering mengalami kurang waktu dari tempo pengerjaan tugas-tugas perkuliahan. Sangat pas sekali kondisi sekarang kalau di sandingkan istilah plesetan Sistem Kebut Semalam (SKS)
Keadaan ini telah menjadi rutinitas sehari-hari. Ibaratnya sudah menjadi momok menjijikkan yang memaksa untuk ditelan. Pengadaptasian sebenarnya sudah dimulai sejak ospek kemaren. Masa-masa ospek juga seperti saat ini. Para kadisma dengan sombongnya memerintah para mahasiswa baru memenuhi semua penugasanya dalam waktu terbatas. Semua melaksanakan dengan patuh atas dasar ketakutan. Kelanjutanya memang bisa terpenuhi, karena upaya dan kemauanya sangat kuat untuk mewujudkanya. Sayangnya kapasitas pemenuhan tidak dilihat bagaimana kualitas hasilnya. Dapat dibayangkan sendiri seperti apa karya terbaik melaui unsur kebosanan. Sama perihalnya tugas perkuliahan rata-rata lebih kepada pencarian titik aman saja.
Sampai sekarang tidak ada sebuah toleransi pengertian dari para dosen. Mereka seperti memaksakan para mahasiswanya menguasai secara utuh mata kuliahnya. Rasa kecintaan terus dipaksaan kepada para mahasiswa. Sebagai taruhan akhir selalu nilai A, B, C, D, atau E. Sempurna sudah sekarang, pikiran sudah benar-benar diperkosa secara terang-terangan. Kebaikan penawaran cinta mata kuliah lagi rasanya juga tidak langgeng. Buktinya hampir setiap ulasan pelajaran semester lalu lupa. Dosen menerangkan peristilahan maupun pertanyaan untuk menghasilkan sintesis mata kulianya di semester satu jawaban para mahasiswa dapat dipastiakan begini “sudah diajarkan tetapi lupa.” Apa ini bagian dari kegilaan kecil? Aku tidak pernah tahu. Lebih mudah katakan saja ini adalah buah kebosanan belajar yang di invasi tugas-tugas mata kuliah tertentu.
Secara saya sebagai orang mendeklerasikan diri sebagai orang waras mengalami kejenuhan. Penumpukan dan kemandegan penugasan terus menyudutkan kepada waktu. Kemudian keikhlasan berevolusi menjadi keterpaksaan. Sedikitpun tidak penah ada niatan meninggalkan tugas. Saya malah senang bila bisa menyelesaikan penugasan secara total dan maksimal. Sedangkan dari sisi waktu yang tidak memungkinkan kualitasnya hanya abal-abal. Muak sekali pada keadaan seperti ini. Mampu mempersembahkan terbaik tetapi jeratan waktu menghilangkan potensi sebenarnya yang maksimal.
Lembur, tidur setelah lewat pukul 24 malam menjadi terbiasa. Kalau pada dasarnya sudah ada indikasi insomnia tidak masalah. Hanya saja alangkah sialnya mengapa saya bukan dari bagian mereka. Efeknya keesokan bila jam-jam perkuliahan ngantuk. Konsentrasi tidak seratus persen tercurahkan pada penyampaian maupun pengulasan materi. Tidak peduli lagi alias masa bodoh dengan artikel-artikel memuat dampak kurang tidur. Seperti mudah tempera mental, daya tahan tubuh rentan, otak lemot dsb.
Tuntutan seabrek tugas secara tidak langsung bisa menekan nafsu makan. Lupa akan rasa lapar perut minta makanan. Jam-jam lapar lebih sering dilalui waktu perkuliahan. Saat istirahat habis untuk shalat atau ngobror bersama teman-teman. Kondisi seperti ini terkadang membuatku berfikir. Apa sensor rasa lapar otakku sedang di pause? Karena saya makan karena saya takut sakit, ingin memenuhi nutrisi tubuh, bukan rasa lapar.keinginan nafsu seakan telah menyelip pada ruang sempir sampai-sampai tidak muncul. Inilah salah satu pembuktian pemerintah kalau semakin banyak orang belajar di perkuliahan semakin maju bangsanya. Kemajuan itu bisa didapat dari turunya impor beras Vietnam sebab sehari hanya makan dua kali. Membantu perekonomian masyarakat karena sebagian besar mahasiswa mengganti jadwal makannya dengan snack maupun jajanan lain sejenis.
Kondisi ini terlalu menjajah pikiran. Kebebasan, kesenangan, penenangan pikiran terampas dari banyaknya tugas. Terlepas dari itu manusia butuh pelampiasan penyaluran berbagai hasrat alamiahnya. Pengekangan terjadi secara secara terus menerus dan semakin parah tanpa ada niat mengakalinya. Angin segar mutlak kita butuhkan demi menjauhkan pada kegilaan. Jadi tugas-tugas bisa kita percepat penyelesaianya. Perpendek jangka waktu melalui disegerakan. Segera dikerjakan tanpa menunda lagi, kalau kata pak Jusuf Kalla jargon politiknya “lebih cepat lebih baik.”
Teledornya pemanfaatan waktu maksimal juga bisa dari unsur kemalasan. Malas berawal dari keinginan melakukan kegiatan lain yaang lebih asyik, menyenangkan, heboh, dan menarik saat itu. Tidak ada yang rugi sebenarnya karena waktu istirahatnya sudah dihabiskan dimuka. Kesenangan diawal waktu tidak akan cukup berarti senang sesungguhnya. Kongkritnya melakukan kesenangan karena pelarian atau pengalihan tugas. Ingat surga saja oleh Allah ditempatkan pada akhir siklus kehidupan berdasarkan firmanya. Menghilangkan kesenangan bukan berarti melewatka kesempatan. Kesenangan tidak akan pernah ada habisnya malah esok akan datang yang lebih seru lagi. Sedang kebutuhan keilmuan sangat mendesak bagi kehidupan bermasyarakat kelak.
Tidak asyik juga ketika kita belajar terus-menerus tetapi suatu saat menemukan kekeringan ide. Akal serasa habis mau mengeluarkan argumen selanjutnya seperti apa. Penggalian ini bisa didapat dari pencerahan buku referensi. Membaca, membaca, dan membaca jurus utamanya. Tidak ada lainya. Sempatkan minimal 10 halaman kamu membaca buku referensimu. Secara penjabaran ilmu komunikasi membaca merupakan bagian dari komunikasi internal. Saat saya membaca saya sedang melakukan komunikasi pada diri sendiri. Nilai tambahnya ketika terjadi komunikasi bersamaan berlangsung sebuah perekaman memori otak. Kemudian memori itu tersimpan dalam sebuah ingatan. Seperti penuturan pak Mukhtar salah satu dosen yang memiliki ritual baca buku enan jam satu hari seperti ini. Suatu saat informasi hasil serapan kita membaca akan dipanggil oleh otak. Lakukan saja karena membaca itu seperti minum air putih, tidak terasa tetapi menyehatkan.
Apalah gunanya semua ini jika kondisi tubuh kita sakit. Disaat mengalami musibah sakit persepsi dan penerimaan indra kita berubah. Manis bisa berubah pahit oleh lidah, asin menjadi tawar dsb. Kalau ilmu, pengalaman, atau pengetahuan lain dia wujudnya kepada ingatan non fisik. Sakit tubuh tidak menjadikan hilangnya memori yang sudah terukir. Kecuali sakit akibat kecelakaan berhubungan dengan benturan keras di kepala (amesia). Secara teknis memang begitu, sayangnya pemaksimalan kompetensi sangat jauh. Fisiklah media utama tubuh, aktifitas, cita-cia, maupun spiritualitas manusia.
Istirahat yang cukup adalah obat mujarab dan manifestasi kesehatan. Hari esok akan ada sesuatu lebih penting dari sekarang. Ini adalah kenangan, sumber pengalaman baru, ladang pembelajaran. Jangan sampai terjatuh pada kesakitan selama masih bisa mencegahnya. Sangat disayangkan kalau kita kehilangan momen terbaik untuk mengukir pengalaman dan pahala surga kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar