Minggu, 27 April 2014

halo aku dalam novel

Adalah sebuah novel karya Nuril Basri, diterbitkan oleh Gagas Media. Ini merupakan novel cetakan pertama yang diterbitkan pada tahun 2009. Tebalnya 302 halaman dengan ukuran lebar 13 x 19 cm. Dengan desain cover depan bergambar seorang wanita membuka sebuah buku atau album foto tepat bersandar di sudut ranjang. Dari desain cover seperti ingin ditampikan sebuah tanda tanya tentang apa isi cerita didalamnya. 

Bagi kelompok pencinta novel mungkin tidak begitu mempersalahkan bagaimana struktur dan gaya bahasa yang dipakai panulis. Sekedar menilai dari sinopsis awal penulis memberikan semacam testimoni tentang cita-cita atau keinginanya yang ngebet ingin menulis. Tetapi dugaan saya salah ternyata penulis menjadikan kehidupan penulislah yang ingin ditampilkan menjadi sudut ceritanya. Sangat menantang memang, karena setelah larut dalam alunan cerita-cerita didalamnya memaksa saya untuk terus membaca sampai selesai. Lebih keren lagi ditamnbah dengan model alur penceritaan yang sebelumnya belum pernah saya temui sebelumnya. Seakan ini adalah sebuah novel pertama yang saya baca dengan sudut pandang penceritaan diluar kebiasaan kehidupan manusia pada umumnya. 

Cukup membaca novel ini secara verbal saja dan tidak usah mengambil sifat dak karakter tokoh-tokohnya. Kalau pada film-film kandunganya seharusnya berlebel 18+. Maksudnya ketika seseorang labil membaca novel ini dikhawatirkan mempunyai pandangan buruk akan kehidupan sosialnya. Karena struktur ceritanya digambarkan tentang kehidupan-kehidupan para individualisme dan secara tidak disangka-sangka mereka selalu mendapat keberuntungan. Ini tidak dapat disalahkan juga karena latar belakang cerita mengambil di sebuah kampus kota Oregon Amerika Serikat. Walau penulis ingin menyampaikan beberapa fakta terpahit kehidupan bagi seseorang individualis tetap saja sampai akhir cerita dia tidak menggambarkan secara jelas bagaimana kehidupanya setelah bertolak ke tanah air. Mungkin penulis masih meyakini apa yang dia tulis sendiri bahwa “sebuah cerita kehidupan itu lebih banyak sengsaranya, daripada bahagianya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar