Minggu, 27 April 2014

Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Buku tentang kisah perjalanan liku-liku kehidupan sosok konglomerat Indonesia yang namanya akhir-akhir ini mulai populer. Meski ini yang saya baca bukan buku aslinya tetap saya ingin menyampaikan resensi buku berharga dua puluh ribu itu. Penyusun buku adalah Tjahya Gunawan Diredja yang saat ini masih aktif sebagai berstatus wartawan kompas. Penerbit dari buku berhalaman total 390 dengan lebar 15 cm x 23 cm adalah Kompas Media Nusantara. Cover depan dipampang foto Chairul Tanjung, kemudian bagian belakang ditampilkan berbagai tanggapan-tanggapan dari berbagai tokoh nasional dan bissnismen sebagai pemerkuat bahwa buku ini sangat sarat akan pelajaran-palajaran dari sosok Chairul Tanjung.

Kompas sebagai media nasional yang sudah terkenal dan diakui sebagai media papan atas nasional tentu tidak sembarang penulis bisa diterbitkanya. Anggapan bahwa ini karena berkaitan tokoh yang diitulis mempunyai uang banyak seakan tidak menjadi persoalan ketika membaca aluran ceritanya. Bahasanya ringan dan mudah dipahami oleh siapa saja, hampir mirip sebuah sastra. Sebuah tampilan sangat berbeda dari buku-buku biografi umumnya yang struktur bahasanya terkesan kaku atau monoton ketika dibaca. Nilai-nilai kehidupan dan beberapa sikap maupun perilaku – perilaku tokoh dapat dipakai sebagai contoh dan sangat banyak membuka pengetahuan baru bagi saya sendiri. Jika semua anak-anak indonesia dan para orangtua membaca buku ini mungkin cita-cita untuk menjadi seorang pegawai negeri dan pekerja bisa berkurang. Setidaknya jiwa mereka lebih sadar bahwa membangun negeri, menjadi orang kaya, menjadi boss itu bukan melalui jalan politik saja. Tidak pernah sedikitpun saya menyesal telah membaca buku ini, karena secara tidak langsung saya bisa memiliki persepsi lain tentang kehidupan dari sudut pandang pengusaha. 

Delapan kali buku ini dicetak ulang sepanjang tahun 2012. Entah buku kw ini masih terdaftar pada salah satu yang disebutkan atau tidak sebab bukan asli. Terlepas dari masalah buku masalah teknis buku kw yang tulisanya ada yang kabur, gambarnya tidak jelas dan masalah-masalah-masalah lain terdapat sebuah celah lain. Sisi penceritaan kehidupan Chairul Tanjung yang diceritakan sebagai manusia super sibuk dikatakan suka membaca kurang begitu kuat ditampilkan. Secara garis besar cerita malah tergambar tentang bisnis-dan bisnis semuanya karena diperoleh atas usah memutar otak. Lupa atau entah disengaja bahwa segala datangnya pemikiran itu tidak datang begitu saja karena perlu sebuah input yaitu buku. Memang ini dapat dibantah dari sepanjang jalan pendidikannya dia sekolah pada lembaga pendidikan terbaik. Celakanya jika anggapan sebuah media teknislah yang menjadi faktor utama keberhasilan bukan dari tekat dalam diri untuk maju membawa dampak pemikiran merendahkan sekolah-sekolah masih biasa-biasa saja, contohnya sekolah-sekolah di daerah pedesaan. Jenis buku-buku seperti ini juga kurang baik jika dibaca terus menerus tanpa diimbangi buku-buku pemikiran. Jatuhnya pada khayalan-khayalan dan terbuai akan mimpi menjadi sukses. Singkatnya adalah buku ini merupakan stimulus seseorang untuk bangkit dan mau beraksi dengan peluang sekecil apapun melalui cerita-cerita suksesnya boss Trans Corpora itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar