Jumat, 28 Maret 2014


Matahari saat ini masih terbit disebelah timur. Bulan masih menampakkan pantulan sinarnya dimalam hari. Sadarkah semua ini dapat hilang dan tiada lagi untuk kita. Bukan akhir dunia memang, tetapi kita suatu saat akan mengakhiri semua itu. Semua yang saya katakan tadi tidak lebih dari sebuah jalanya takdir kematian. Kematian akan menjadikan ketiadaan dunia. Misalkan saja begini, mata kita tidak mungkin lagi melihat panorama alam, hidung kita tidak bisa mencium bebauan, semua panca indra berhenti berfungsi seperti semestinya.


Pepatah lama mengatakan “harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading.” Semua ada benarnya bila kondisi sosial masyarakat kita masih seperti sekarang. Kita tetap menjujung tinggi adat dan kebudayaan maupun kearifan lokal. Semua nilai-nilai itu penuh arti mendalam menyangkut simponi keseimbangan manusia dan alam. Penghormatan akan nilai budaya menjadikan pemarjinalan manusia primordial. Bukankah kita selama ini juga mendukung olok-olok primordial itu?

Integrasi budaya di akhir-akhir ini sudah seperti tidak dapat dibendung. Pikiran kita dikontruksi untuk menyukai sesuatu berbau asing. Produk lokal secara tidak langsung mati secara perlahan-lahan karena kekejaman kita. Sampai kapan bengsa ini, terus menjalani blunder masalah sosial. Para ilmuwan sosial terbaru sepertinya telah pupus pada pemahaman postmodern. Apa ini menjadi akhir dunia karena semua pemikiran telah terkuras generasi lampau?

Semua perubahan tadi ujung akhirnya tidak lebih pada pembunuhan kearifan lokal juga. Dari sisi lain agama masuk dari elemen berbeda. Agama menyatu dalam pikiran manusia sebagai legalitas pembenar arahan hidup. Apabila fanatisme agama ini bertolak belakang pada kondisi masyarakat jadinya sebuah perkawinan budaya. Campur tangan agama membawa perubahan frontal pada manusia. Agama adalah sesuatu yang istimewa. Dibalik monopoli budayanya agama ingin membawa umatnya melawan ketiada batasan. Awalnya kita diberi sebuah kepercayaan untuk benar-benar meyakini. Keyakinan kita terlembagakan pada kebenaran tersendiri sehingga satu agama punya banyak kebenaran lain. Masalahnya kebenaran itu tidak pernah digugat demi mencari kebenaran yang sebenar-benarnya. Persoalan ini dapat dimaklumi sebab latar belakangnya saja keyakinan tanpa ilmiah.

Kesenangan yang kita alami ketika meninggalkan nilai budaya lokal memang tidak berdampak besar. Tetapi untuk apa kita senang sendiri untuk sementara waktu dan dihari lain kita menangis. Ratapan yang saya maksud merupakan kepedihan akan sebuah dosa mengapa kesempatan tidak pernah kita manfaatkan. Ceminanya kita ambil saja sebuah film tentang perjuangan atau pembebasan. Rasa-rasanya mesti ada sebuah bagian dimana tokoh utama dihadapkan pada pilihan sulit. Bila seandainya bergerak kemungkinanya antara hidup dan mati bila diam tetap aman. Amanya diam tadi tentu bukanlah titik kenyamanan, karena pada dasarnya tidak ada perubahan dari segi apapun.

Meninggalkan budaya karena alasan perubahan, revolusi, atau perbaikan. Inilah kemenangan sesungguhnya bila kita bisa benar-benar mengkontruksi budaya baru. Rasanya tingkatan itu masih jauh dari angan-angan. Persoalanya justifikasi salah lebih mudah untuk mempercepat matinya budaya lain. Sayanga sekali kita tidak pernah sadar kalau kesalahan budaya itu tidak lebih dari persepsi kita yang agak berbeda. perbedaan kita tidak lebih dari pengetahuan baru yang saat ini pada golongan terbaik.

Semua tidak akan penah menemui kata akhir. Baik manusia atheis yang selalu menggugat eksistensi Tuhan, para ulama pengagung Tuhan, para fanatisme aliran-aliran duniawi akan tetap ada. Ini adalah komposisi alamiah dari kehidupan sosial planet bumi. Katanya disebut manusia sebagai penguasa selama hidup. Kendati begituke kuasaan manusia bukan terletak pada lamanya usia dia hidup. Melainkan dari sebuah garis pemikiran dan perbuatan apa yang telah ditorehkan.

Sampai kapankah kita bisa menghindari kesalahan? Bukankah setiap hari-hari kita adalah kesalahan. Karena kesalahan ada kesalahan lain lebih besar maka diadakan kata benar. Sedang agama menjadi pencerah karena dia membawa Tuhan yang mempunya derajat Maha. Pengerucutan paling penting kita bisa menaruh kesetiaan pada nilai-nilai leluhur dan agama. Agar nanti ketika ketiadaan datang masih ada sesuatu kenangan tidak ada tetapi bisa dirasakan generasi selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar