Jumat, 28 Maret 2014

Srintil Dan Lamunanku


Pernahkah kita menonton film “sang penari”? Tentu bagi yang sudah masih ingat bagaimana alur ceritanya. Disitu diceritakan tokoh Srintil punya cita-cita mengabdikan dirin sebagai seorang penari Ronggeng warisan leluhurnya. Disini saya tidak akan mengkritisi atau mengulas film tersebut. Film sang Penari menurut saya lebih membuka mata hati dari segi latar (setting) dan alur cerita. Disana
di desa tempat tempat tanah kelahiranku saat ini tidak jauh berbeda dengan gambaran dukuh paruk pada tahun 1963. Ironis memang, tapi seakan iklim itu tidak mampu menggeser peralihan kepada kemajuan seperti kota-kota. Sementara dikota-kota besar pemandangan gedung begitu mewah menjulang kelangit. Di kota semua apa yang menjadi keinginan kita bisa langsung terpenuhi asal ada uang. Uang lagi dan uang lagi ujung-ujungnya tidak lain kapitalisme.

Menyambung persoalan susahnya mencari uang membuat kedudukan uang sendiri ditinggikan. Seakan Tuhan seperti telah menjelma kedalam bentuk nilai lembaran-lembaran itu. Maksud saya bukan Tuhan kamu, saya tahu kamu rajin beribadah. Setiap hari menjalankan syariatnya, berkhotbah kepada para teman satu kelas atau mengidealismenya tanpa batasan akal. Dan jangan sebut aku kafir karena kelancanganku berfikir sedikit tentang Tuhan. Maklum bila terkadang saya harus dijauhi, diintimidasi secara tidak langsung, memang karena kalian hanya yakin pada Tuhan. Sedang aku disini memikirkan untuk meyakininya sebagai sesuatu yang haaq.

 Kekafiran pikiran ini kembali menggugat pada ketuhanan uang. Banyak orang mengatakan uang memang bukan segalanya, tetapi dengan uang segalanya bisa. Bukankah itu suatu islah pengakuan melebihkan uang diatas nilai tukar. Bisa saja cintamu kau tukarkan dengan uang, harapanmu kau pupuskan dengan uang, ibadahmu hanya karena kau lari dari ketakutan kesengsaraan azab uang. Bila uang sudah bergerak tentunya kekuasaan akan tersentral pada kelompok tertentu. Lama-kelamaan jurang pemisah kaya dan miskin sejauh bumi langit. Para penguasa akan bebas terbang menari diatas rendahnya diri kita. Ingatkah kita pada paham revolusi oleh karl max. Semua alat produksi harus menjadi milik rakyat. Karena itulah biang sumber kesejahteraan.

Ceramah para alim ulama yang mengatakan bahwa kesejahteraan bukan harta tidak sepenuhnya salah. Apa mungkin hidup dalam kondisi saat ini apalagi kita sudah berkeluarga bisa menolak dunia. Pencapaian sejahtera melalui kententraman hati hanya omong kosong. Selama kita masih takut pada kematian, kehinaan, kesengsaraan mesti masih melebihkan dunia. Logikanya begini, seandainya kamu terlahir dari keluarga super miskin tampa ilmu pengetahuan apa kamu tidak ingin merasakan seperti mereka. Mereka disini mengarah kepada kehidupan orang lain dianggapnya lebih enak atau lebih baik dari dirimu saat itu. Barulah kemudian kesejahteraan datang ketika kamu mampu mencukupi kebutuhan. Lalu saat itu juga dirimu mulai membatasi egomu. Benang kusut kepuasan ini tidak akan penah ada habisnya disebabkan manusia sampai kapanpun tidak pernah tercukupi.

Astaga, ternyata bila keadaanya benar begitu kita tidak pernah menemukan kata menang pada kehidupan. Menang menjadi manusia bisa jadi representasinya seperti Srintil dalam bagian akhir film sang penari. Kemenangan dia adalah menjadi manusia bebas seutuhnya. Dia telah menembus batas adat tentang profesinya yang mengharuskan melacurkan diri. Keadaan ini bukankah sebuah kelancangan sangat tidak sopan pada leluhur? Kita kembalikan lagi sekarang. Leluhur itu buat apa jika tendensinya menghancurkan hidup keturunannya. Sah-sah saja bila seseorang tetap mempertahankan nilai leluhur yang mengikat geraknya. Alangkah baikknya apabila ingin mengkonservasi semua budaya leluhur melalui mengingat kembali terjajah seperti apa.

Relakah selamanya kita terjajah. Terjajah dalam artian pikiran, ide, dan rasa keingintahuan yang seharusnya kita manfaatkan karena anugerah Tuhan. Semuanya telaah persepsi tadi bisa mengarah kepada kekayaan. Bukan itu tentu saja yang saya maksudkan. Harta dan kekayaan bukanlah tujuan utama tapi cobalah arahkan pada sudut lain yaitu ilmu pengetahuan. Ketika kita berilmu kita akan tahu bila sudah tahu kita bisa mengerti, muara akhirnya tidak lain kebijaksanaan. Ibarat pepatah semakin berisi padi akan semakin menunduk.

Kondisi apapun hakekatnya orang kecil selalu dijadikan korban. posisi srata sebagai orang kecil oleh sebagian orang besar memang sengaja tetap dijaga. Tentu mereka menginginkan keseimbangan kodrat besar kecil, tinggi rendah, panjang pendek semuanya demi menjaga derajatnya sekarrang. Analogi paling gampang, orang kecil tidak ubahnya kelinci-kelinci dihutan bertuan singa. Singa akan membiarkan mereka hidup bebas sebagai peneguhan kalau dirinya benar-benar paling ganas. Keuntungan lain didapat oleh singa dia bisa dengan mudah memangsa bila lapar.

 Ribet dan sangat ribet jadinya. Masalahnya dunia bukanlah bumi yang jelas bulat bentuknya. Dunia punya representasi sendiri dari setiap individu. Jadi dunia punya banyak sekali ruang-ruang lain. Seorang tukang jahit mengatakan dunianya adalah lembaran-lembaran kain. Mahasiswa mengatakan dunianya adalah sebuah teoritisi tentang fenomena masyarakat atau buku-buku modul tebal.

Kesalahanya bukan bagaimana dunia berasal pada tempurung kepala. Melainkan bagaimana kita menciptakan dunia oleh konstruksi beberapa orang. Persoalan ini bisa ditumbangkan bila hidup kita benar-benar sadar akan semua kondisi kita. Kesadaran itu perlu dibangkitkan melalui sebuah rangsangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang benar-benar membukakan kita. Bukan melanjutkan eksistensi kebenaran lama. Ilmu pengetahuan pada individu dan biarkan menyusun semua idealismenya untuk dunianya kelak. Kontrol batasan bisa memanfaatkan lini agama. Agama bisa menjadi pengerem ampuh bila subjek sudah benar-benar mengamini Tuhan 100%. Kekuasaan tertinggi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat harus ditumbangkan. Mendukung gerakan demokrasi ini sama saja kita jalan ditempat, bergerak karena dunia memang sudah waktunya bergeser. Sampai kapan keadilan bisa dirasakan rakyat kecil, bila jebakan rutinitas terus dipelihara.

Revolusi terbaik kekuasaan tertinggi dari pengetahuan, oleh para ahli bukan para wakil rakyat, dan untuk rakyat. Siapa mau melakukan politik bila pikiranya kosong, bicaranya kowar-kowar tapi tidak pernah mencapai kebijaksanaan. Standart gelar bukanlah ukuran mutlak intelektual seseorang, dia harus benar-benar mengalami ujian ulang. Tidak akan ada kepercayaan utuh bila pembuktian kapabelitas belum seutuhnya dilakukan. 

Mimpi hari ini adalah terbangun oleh ilmu pengetahuan, bukan bangun atas rasa keprihatinan. Uang sumbanganmu tidak lebih dari penuhanan baginya, bila mereka tidak pernah berfikir Tuhan secara kafir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar