Jumat, 02 Mei 2014

Keluar dari balik topeng

Jujur, seakan sudah biasa. Semua orang tahu nilai itu, sejak dari sekolah dasarpun sudah diajarkan. Implementasinya adalah jangan menutupi apapun dari keadaan sebenarnya. Mengatakan apa adanya ketika kita berbuat mencuri atau apapun yang telah terjadi meski itu akan menimbulkan aib bagi diri sendiri. 

Suntikan besar malam ini bagi saya karena diberikan sudut pandang pemikiran lain oleh mas Rey. Sampai akhirnya kejujuran menjadi sebuah titik paling sentral atas belenggu
semua masalah ini. Cinta, suka, benci, semangat, berani, dan pengecut bisa tampak dalam kacamata kejujuran. Karena jujur berarti mengeluarkan, menumpahkan, dan memberikan sesuatu atas dasar kebenaran. Output harus juga diberi perhatian penting, bukan hanya memasukkan saja. Makanya terkadang ada sebuah rahasia besar bocor kepada publik. Masalahnya sama, adalah tanggung jawab besar ketika dikatakan harus menyimpan. Kata menyimpan sangat indentik dengan beban, dan tanggungjawab dari apa menjadi sebuah amanah. Singkatnya jujur merupakan bagian dari output dari semua apa dipikirkan atau apa yang menjadi pemikiran terpendam. 

Melalui kejujuran pula, semua jadi terbatasi. Jujur telah membatasi kehendak – kehendak dari dalam diri kita. Sebuah keinginan tidak selamanya selaras dengan apa yang terucap oleh mulut. Semisal, inginya makan nasi goreng tapi karena ada alasan suatu hal dari ajakan temen lama untuk makan bakso niat itu diurungkan. Saya tidak berbicara salah atau benar, karena itu sebuah relatifitas dengan penuh pertimbangan dalam memutuskanya. Dari kasus kecil tadi tergambar bagaimana sebuah ketidak jujuran dibalut oleh senyuman, dan keramahan atau bahkan kebahagiaan lain. 

Jujur itu mematikan langkah didepan. Prinsipnya kejujuran adalah memaparkan fakta, tetapi terkadang dalam unsur pemaparan menimbulkan beberapa pihak dirugikan. Kerugian bisa berwujud reputasi, jabatan, gaji, kepercayaan dan lain sebagainya. Orang – orang tersikut seperti inilah yang sangat berpotensi menjadi bumerang pada kita. Setidaknya pelajaran dapat diambil bagaimana seharusnya kita lebih mawas diri dari segala kemungkinan terburuk. 

Pernah mungkin suatu ketika kita mendengar kabar duka dari orang tercinta, atau omelan – omelan paling menyesakkan dada sampai timbul kebencian. Itulah gambaran sisi lain dari kejujuran. Lebih dari sekedar mungkin, tetapi benar – benar bisa mematahkan perjuangan, mematikan langkah, keputusan, dan kekecewaan berat. Mengambil potensi banyaknya rakyat – rakyat galau seperti jamur baru tumbuh semakin hari semakin banyak motivator – motivator tampil di depan publik. Bisa jadi motivator iru tidaklah penting hanya karena banyak orang – orang merasa mementingkan maka terus eksis dan semakin marak. 

Berdasarkan kodrat alam semua solusi permasalahan apapun sudah ada dalam diri sendiri. Tetapi memunculkanya maupun menggugah itu butuh suatu tekanan dari luar. Intinya menciptakan rasa sadar diri akan arti sebuah kebenaran berlandaskan kejujuran. Mengapa harus jujur? Berawal dari inilah mengapa kita masih punya rasa ikhlas. Ikhlas dan ketulusan adalah harapan sosial terbaik dari semua manusia, bukan? Selama masih ingat kata – kata kalau manusia makhluk sosial.

1 komentar :