Selasa, 31 Desember 2013

LUAPAN FUNGSIONAL STUKTURAL




Rabu, 20 November 2013

Hari ini belajar tentang apa yang namanya fungsional struktural, dimana yang dipelajari adalah sebuah paradigma kebenaran. Kebenaran bersifat sistem atau kebenaran adalah sistem.
Maksudnya adalah dalam suatu lingkungan dan tatanan masyarakat diibaratkan seperti tubuh yang setiap struktur atau bagian akan selalu bertautan dan berkaitan dengan bagian lain. Alhasil jika pada salah satu bagian mengalami disfungsi maka akan mempengaruhi kinerja bagian lain dan itu hanya boleh diatasi dengan dua cara yaitu perbaikan dan mutasi.

Perbaikan artinya bagian dari struktur yang rusak tadi dicoba untuk dipulihkan contohnya jika salah satu
 elemen masyarakat misalkan saja keamanan pada suatu kampung yang kurang optimal karena masih banyak maling menjarah harta benda milik warga, maka instasi keamanan yang bertanggungjawab diberi pengarahan lagi, disadarkan, atau diberi pelatihan kembali supaya bisa bekerja sebagaimana fungsinya. Terus kalau mutasi yaitu sistem yang cacat atau mengalami disfungsi akan dihilangkan atau diganti dengan sesuatu yang baru.

Tetapi dalam kenyataanya dilingkungan masyarakat yang dalam perkembangannya mengalami relatifitas maka disfungsi-disfungsi semacam ini terus saja berlangsung. Pengambilan idealisme yang begitu kuat demi mencapai tujuan semua elemen masyarakat harus terus berpacu bekerja sebaik mungkin tanpa ada yang namanya kesalahan. Karena konsekuensinya tidak main-main yaitu terdegradasinya mereka dari kehidupan sistem yang berlangsung apa bila menjadi penghambat tercapainya tujuan sistem.

Sisi kelemahan dari pemikiran ini adalah masyarakat tidak sempat bertanya ketika idealisme yang dibawanya cukup baik, tetapi pada realisasinya terjadi halangan atau keganjalan pada beberapa titik. Dampaknya  Masyarakat terikat oleh kungkungan tujuan yang harus tercapai. walaupun tujuan-tujuan tadi tidak serta merta hasil kesepakatan bersama melainkan sebuah kekuatan besarlah yang menentukan arah tujuanya seperti negara misalnya.

Ini bukan soal komunis atau sosialis tetapi paradigma ini ada setelah komunis dan sosialis lahir dan rentanya cukup jauh. Pada saat paradigma ini berkembang komunis merupakan salah satu ideologi yang diuntungkan, karena paradigma fungsional struktural ini sifatnya menggiring pada pemerintahan yang otoritarian.

Itu tadi adalah beberapa petikan dari dosen saya Muhtar Wahyudi, S.Sos., MA. Dari pemaparan diatas dapat kita simpulkan  dari sudut pandang kebebasan yaitu “manusia pada dasarnya tidak dapat hidup terikat, tertekan, terkekang, dan segalanya diatur oleh orang lain karena kita semua punya pemikiran sendiri-sendiri dan ingin berkreasi tanpa ada batasan yang menghalangi kreatifitas.
Kebebasan atau liberalisme seperti memberi jawaban atas solusi pematahan paradigma fungsional struktural, tetapi lagi-lagi kebebasan adalah bukan ukuran segala-galanya semua menjadi baik bahkan bisa merusak.

Mari kita tarik kembali dari atas, karena pemikiran yang sangat idealis rakyat lupa siapa sebenarnya yang menggiring mereka, lain lagi jika kita sudah merasa bebas, diri kita bisa berpuas-puas sesuka hati akhirnya lupa berkaca siapa sebenarnya kita & sebagai apa?

Bukanya anti dengan apa yang namanya kesenangan atau kebebasan tetapi kebebasan dan kesenangan yang seperti apa, siapa, dan bagaimana bentuknya. Saya kurang setuju pada dua hal yang berhubungan dengan kebebasan. Yang pertama adalah pada orang-orang yang berada pada kelas sosial bawah, dengan adanya kesenangan yang sifatnya hanya sementara orang-orang kelas bawah yang melakukan secara berlebihan akhirnya menjadi lupa akan perjuanganya untuk menghancurkan belenggu kemiskinan dan kesusahan hidup yang dia alami selama ini, akibatnya anak cucu atau keturunanya harus mewarisi. Kedua adalah dari orang-orang yang mempunyai harta lebih atau lebih singkatnya dari kalangan atas, ketika mereka dihadapkan pada kebebasan mereka akan berbuat sewenang-wenang akhirnya terjadilah penindasan kaum-kaum lemah dibawahnya yang menghalangi kepentinganya. Orang-orang kaya akan cenderung mempertahankan dan melebihkan statusnya dari yang saat ini dia sandang. Bukan menjadi pilihan lagi ketika orang-orang yang menghambat jalanya relisasi tujuan harus disingkirkan.
 Akhirnya kita seperti kembali kesifat alami makhluk Tuhan yang lain ketika hukum rimba sudah berlaku dan digunakan baik secara sadar maupun tidak dalam kehidupan.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar