Rabu,
20 November 2013
Hari
ini belajar tentang apa yang namanya fungsional struktural, dimana yang
dipelajari adalah sebuah paradigma kebenaran. Kebenaran bersifat sistem atau
kebenaran adalah sistem.
Maksudnya
adalah dalam suatu lingkungan dan tatanan masyarakat diibaratkan seperti tubuh
yang setiap struktur atau bagian akan selalu bertautan dan berkaitan dengan
bagian lain. Alhasil jika pada salah satu bagian mengalami disfungsi maka akan
mempengaruhi kinerja bagian lain dan itu hanya boleh diatasi dengan dua cara
yaitu perbaikan dan mutasi.
Perbaikan
artinya bagian dari struktur yang rusak tadi dicoba untuk dipulihkan contohnya
jika salah satu
elemen masyarakat
misalkan saja keamanan pada suatu kampung yang kurang optimal karena masih
banyak maling menjarah harta benda milik warga, maka instasi keamanan yang
bertanggungjawab diberi pengarahan lagi, disadarkan, atau diberi pelatihan
kembali supaya bisa bekerja sebagaimana fungsinya. Terus kalau mutasi yaitu
sistem yang cacat atau mengalami disfungsi akan dihilangkan atau diganti dengan
sesuatu yang baru.
Tetapi
dalam kenyataanya dilingkungan masyarakat yang dalam perkembangannya mengalami
relatifitas maka disfungsi-disfungsi semacam ini terus saja berlangsung.
Pengambilan idealisme yang begitu kuat demi mencapai tujuan semua elemen
masyarakat harus terus berpacu bekerja sebaik mungkin tanpa ada yang namanya
kesalahan. Karena konsekuensinya tidak main-main yaitu terdegradasinya mereka
dari kehidupan sistem yang berlangsung apa bila menjadi penghambat tercapainya
tujuan sistem.
Sisi
kelemahan dari pemikiran ini adalah masyarakat tidak sempat bertanya ketika
idealisme yang dibawanya cukup baik, tetapi pada realisasinya terjadi halangan
atau keganjalan pada beberapa titik. Dampaknya Masyarakat terikat oleh kungkungan tujuan yang
harus tercapai. walaupun tujuan-tujuan tadi tidak serta merta hasil kesepakatan
bersama melainkan sebuah kekuatan besarlah yang menentukan arah tujuanya
seperti negara misalnya.
Ini
bukan soal komunis atau sosialis tetapi paradigma ini ada setelah komunis dan
sosialis lahir dan rentanya cukup jauh. Pada saat paradigma ini berkembang
komunis merupakan salah satu ideologi yang diuntungkan, karena paradigma
fungsional struktural ini sifatnya menggiring pada pemerintahan yang
otoritarian.
Itu
tadi adalah beberapa petikan dari dosen saya Muhtar Wahyudi, S.Sos., MA. Dari pemaparan
diatas dapat kita simpulkan dari sudut
pandang kebebasan yaitu “manusia pada dasarnya tidak dapat hidup terikat,
tertekan, terkekang, dan segalanya diatur oleh orang lain karena kita semua
punya pemikiran sendiri-sendiri dan ingin berkreasi tanpa ada batasan yang
menghalangi kreatifitas.
Kebebasan
atau liberalisme seperti memberi jawaban atas solusi pematahan paradigma
fungsional struktural, tetapi lagi-lagi kebebasan adalah bukan ukuran
segala-galanya semua menjadi baik bahkan bisa merusak.
Mari
kita tarik kembali dari atas, karena pemikiran yang sangat idealis rakyat lupa
siapa sebenarnya yang menggiring mereka, lain lagi jika kita sudah merasa
bebas, diri kita bisa berpuas-puas sesuka hati akhirnya lupa berkaca siapa
sebenarnya kita & sebagai apa?
Bukanya
anti dengan apa yang namanya kesenangan atau kebebasan tetapi kebebasan dan
kesenangan yang seperti apa, siapa, dan bagaimana bentuknya. Saya kurang setuju
pada dua hal yang berhubungan dengan kebebasan. Yang pertama adalah pada
orang-orang yang berada pada kelas sosial bawah, dengan adanya kesenangan yang
sifatnya hanya sementara orang-orang kelas bawah yang melakukan secara
berlebihan akhirnya menjadi lupa akan perjuanganya untuk menghancurkan belenggu
kemiskinan dan kesusahan hidup yang dia alami selama ini, akibatnya anak cucu
atau keturunanya harus mewarisi. Kedua adalah dari orang-orang yang mempunyai
harta lebih atau lebih singkatnya dari kalangan atas, ketika mereka dihadapkan
pada kebebasan mereka akan berbuat sewenang-wenang akhirnya terjadilah
penindasan kaum-kaum lemah dibawahnya yang menghalangi kepentinganya.
Orang-orang kaya akan cenderung mempertahankan dan melebihkan statusnya dari
yang saat ini dia sandang. Bukan menjadi pilihan lagi ketika orang-orang yang
menghambat jalanya relisasi tujuan harus disingkirkan.
Akhirnya
kita seperti kembali kesifat alami makhluk Tuhan yang lain ketika hukum rimba
sudah berlaku dan digunakan baik secara sadar maupun tidak dalam kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar