Minggu, 01 Desember 2013

ANAK SEMUA BANGSA Pramoedya Ananta Toer

Annelies telah berangkat ke Hindia Belanda, Nyai Ontosoroh dan  Minke  masih meratapi rasa sedih yang berkecambuk dihatinya. Nyai Ontosoroh dan Minke tetap terkurung dalam rumah sampai pengadilan mencabut statusnya sebagai tahanan rumah.

Pandji Darman yang menjadi utusan Nyai untuk mengawal Annelies secara ilegal selalu mengirimkan kabar lewat surat-suratnya kepada Nyai. Kesehatan annelies semakin memburuk, ditambah tidak adanya asupan makanan yang masuk kepada mulutnya. Sampai Annelies tiba di Hindia Belanda keadaanya kritis dan akhirnya meninggal dunia.

ROBERT MELLEMMA

Robert Mellema kakak Annelies berlayar keliling dunia sebagai budak orang-orang Eropa. Kehidupanya memprihatinkan, penyakit yang didapatkan dari tempat plesiran Ah Tjong  terus menggerogoti tubuhnya. Sebuah pengakuan minem dari laporan Darsam bahwa anak Minem si pekerja Nyai adalah anaknya  Robert Mellema. Surat terakhir Robert sebelum ia dikabarkan meninggal memberi pengakuan yang memperkuat bahwa Anak yang di kandung Minem adalah cucu Nyai.

NYAI ONTOSOROH

Nyai Ontosoroh tetap menjadi wanita pribumi yang tangguh. Masyalah-masalah semakin memburunya. Banyaknya persoalan seperti Annelies, Perusahaaan, Pencabutan hak atas harta dan kekayaan,membuat hari-harinya berjalan begitu berat. Tidak ingin melihat Minke sendirian Nyai mengajak Minke ke Sidoarjo, ke tempat Sastro Kassier adik Nyai Ontosoroh untuk melamarkan Minke pada Surati. Surati anaknya Sastro Kassier yang dulunya cantik sekarang bopeng. Nasib surati hampir sama dengan sanikem, sama-sama dijual untuk menjadi gundik demi kekuasaan ayahnya. Nyai mengurungkan niatnya, sementara itu dorongan, nasihat, doktrin-doktrinnya tetap ia alirkan pada Minke.

Sidang pengungkapan kematian tuan Herman Mellemma, Khouw Ah Soe  dan masalah surat-surat Robert Mellemma sangat merendahkan Nyai Ontosoroh. Pengadilan bukan seperti penegak keadilan lagi bagi Nyai. Pengadilan hanya upaya pemidanaan orang-orang pribumi, interfensi atas dasar ras jelas sangat melecehkan.

Selesai pengadilan disibukkan dengan kedatangan ir. Mauritis Melemma yang akan menendang orang-orang menduduki rumah dan perusahaan Nyai. Nyai memerintahkan kepada Minke untuk memanggil Jean Marrais, dan Kommer sebagai strategi pembelaan atas kekejaman Mauritis Melemma. Untuk sementara Nyai ontosoroh berhasil mempertahankan Perusahaannya.

MINKE

Minke masih menulis untuk surat kabar pabrik gula. Selain menulis dalam bahasa Belanda kini ia menulis dalam bahasa Ingris. Pada suatu waktu ia bertemu dengan Kommer seorang penulis dan penerjemah tulisan ke Melayu. Kommer memberi pengaruh dan rotasi besar pemikiran Minke. Kunjungan ke Sidoarjo mempertemukan dia pada cerita-cerita baru tentang pribumi yang menggerakan hati nuraninya. Perubahan Minke  dalam tulisanya harus membuat dirinya hengkang dari tempat kerjanya. Faktor lain yang mempengaruhi Minke adalah cerita-cerita dari Khouw Ah Soe.

Karena Minke berhenti menulis maka oleh Nyai disetujui permintaanya untuk sekolah Stovia di Batavia. Ketika akan berangkat dirinya ada dilema antara menemani mertuanya dalam menghadapi banyak masalah keluarga. Ketidak tegaan Nyai Ontosoroh ikut menanggung masalah memaksa Minke pergi secara diam-diam ke Batavia.

Di kapal Minke bertemu  Ten Haar seorang penulis yang melakukan perjalanan ke Semarang untuk pindah kerja karena dipecat dari perusahaan Surat kabarnya. Minke mendapat cerita-cerita baru tentang Revolusi Perancis, Penguasaan bumi atas orang-orang yang bermodal, penindasan orang Eropa di Afrika Selatan. Semua menjadi referensi pemikiranya tersimpan sebagai pencerahan keadilan kehidupan rakyat pribumi selama ini.

Sampai di Semarang Minke dipaksa turun oleh agen kepolisian. Minke sendiri penuh tanda tanya karena tidak diberi tahu akan dibawa kemana. Dinaikkanlah pada kereta setelah sebelumnya bermalam dulu di Hotel. Baru Mingke teringat ketika melewati sebuah tempat di Surabaya kalau dirinya dibawa pulang ke Wonokromo kembali.

Kepulangan Minke sebagai saksi atas berbagai sidang pengadilan. Panjangnya waktu pengadilan membuat dirinya terlambat masuk sekolah di Stovia. Selesai pengadilan menyusul kedatangan Mauritiss Melemma yang akan menemui keluarga Nyai. Minke menjadi semakin kawatir akan Nyai Ontosoroh dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

Akhirnya ketika Mauritiss Melemma tiba Minke benar-benar tahu orang yang membunuh istrinya. Hujatan protes atas ketidakadilan membuat Mauritiss Melemma tidak berkutik. Kemudian Mauritiss Melemma pergi sambil meninggalkan bingkisan koper kaleng berisi pakaian dan payung kecil Anelies.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar