Senin, 07 Oktober 2013

sisi lain surabaya

Hari ini sabtu, 20 September 2013 hari dimana akan dimulainya sebuah perjalanan singkat pra-diklat magang di SM. Diawali dari persiapan sebelum berangkat pukul 08:30 wib saya mulai berkemas - kemas memasukkan barang yang dibutuhkan dalam misi ini. Jam di hp menunjukkan angka 09:30 karena persiapan sudah selesai maka berangkatlah dari kost menuju kampus tempat ngumpul sebelum berangkat.
Pukul 10:00 saya sudah sampai dikampus, langsung menuju masjid. Sesampai di depan gerbang seperti ada suara memanggil namaku, aku acuhkan saja suara itu “ barang kali Cuma perasaanku saja” pikirku tanpa menoleh. Sudah jam sepuluh tetapi tidak ada orang di sekret padahal kesepakatan kemarin berkumpul di sekret. Ada sebuah pesan masuk dari Aji yang berisi pemberitahuan bahwa ngumpulnya didepan gerbang masuk. Terpaksa harus kembali lagi, disana sudah ada beberapa teman – teman dan beberapa kakak senior. Setelah semua anggota tiba kita melakukan musyawarah mengenai biaya, kemudian pindah lokasi ke sekret. Setelah shalat dzuhur kami mempersiapkan makanan untuk makan siang.niatnya  membaca buku tampa sadar malah ketiduran dan dibanguni saat waktu makan. Selesai makan ada sesi foto –foto sebentar.
Pejalanan dimulai  pukul 14:15 dengan jalan kaki sampai pertigaan kampus, dilanjutkan naik angkot sampai pelabuhan kamal. kemudian naik kapal menuju Tanjung Perak surabaya. Sudah cukup sore rupanya, sedangkan  kami belum menjalankan shalat asyar. Kami semua akhirnya menunda sebentar perjalanan untuk beribadah di masjid.  Selanjutnya perjalanan menuju Tunjungan Plaza Surabaya dengan naik bus kota. Dalam perjalanan saya tidak begitu memperhatikan luar ( jalanan ), setelah kira – kira setengah jam perjalanan sampailah pada tujuan pertama.
Turun dari bus pandangan mataku tertuju pada gedung orange besar dan timbul pertanyaan dalam hati “ inikah Tunjungan plaza ?”.  karena waktu semakin malam, misi pertama dilakukan dengan kami dipecah menjadi 3 kelompok. Penugasan pertama yaitu disuruh bertanya pada pengunjung, penjual, petugas atau orang- orang yang ada disitu. Kebetulan aku satu kelompok dengan Azis & Ike, saya memisah dari mereka dengan harapan dapat informasi banyak. Kenyataannya berbeda aku disini merasa gagal, salah satu faktor kegagalannya adalah kesalahan saya memakai celana SMA, malah ada penjual yang mengatai “  ngapain sih dik kamu anak SMA nanya – nanya” dengan wajah sinisnya. Maka dari itu saya sampai ganti celana di toilet. Karena hampir semua orang yang saya temui acuh tidak peduli, mereka tersenyum dan ramah bila ada calon pembeli. Di tempat ini etalase – etalase dipenuhi barang mewah, utamanya product impor. Ada satu hal menarik ternyata ada sebagian pengunjung yang hanya ingin nongkrong, jalan muter ngelilingin plaza dari atas sampe bawah menurut keterangan dua cewek abg.Setelah satu jam muter – muter kami semua harus kembali karena waktu menunjukkan pukul 18:30.

Dengan naik angkot sesak dan berjubel kami menuju tempat kedua. Setelah turun dari angkot terlihat sebuah tulisan Taman Bungkul  Surabaya, di sini banyak orang berkumpul, anak – anak kecil bermain baling – baling ada yang lampunya,dan para pedagang asongan menjajakan daganganya. Kami semua digiring menuju sebuah tempat duduk yang agak kosong. Tempat duduk ini berbentuk meligkar seperti tribun sepak bola tetapi dibagian atas ada kolam, yang ada air mancurnya tetapi airnya tidak menggenang. Disini ternyata sudah ada mas Citra & Deffy yang menunggu, kami istirahat sebentar sambil melihat aktifitas orang – orang.
Kami pindah posisi ke sebuah pelataran bawah pohon dan membentuk lingkaran. Disini mas citra mencoba meriview apa yang telah didapat dari kunjungan TP. Pertama ia menanyakan bagaimana kesannya, dan ada apa , siapa yang ada di TP, dan itu semua ternyata belum  bisa kami jawab dengan memuaskan dengan kata lain gagal.terakhir kami diberikan informasi bagaimana seputar tentang kehidupan dan perputaran ekonomi didalam gedung tinggi itu.

Dilanjutkan misi kedua, kami dibagi - bagi menjadi pasangan – pasangan, saya mendapat pasangan bersama Erna. Tugasnya kami barjalan berdua sambil wawancara. Awalnya saya agak begitu canggung sama Erna karena selain ia anggota baru orangnya juga pendiam. Kami berkeliling taman dan berhenti sebentar setelah ada tempat kosong, kemudian duduk dan ngobrol - ngobrol sampai agak lama sebelum dilanjutkan jalan lagi.

Ada beberapa orang memegang ular, iguana, musang, dan tupai. Mereka memamerkan pada pengunjung tentang kejinakan binatang itu, ada yang minta foto bersama ular ataupun tanya seputar binatang – binatang aneh itu. Saya cukup tertarik lalu saya putuskan untuk duduk didekat pemiliknya. Aku diam untuk mengamati dan ikut tertawa tersenyum seperti penonton lain padahal aslinya saya jijik melihat ular itu. Di sela - sela penonton saya menanyakan beberapa hal yang kesimpulanya dia memelihara semua binatang ini atas dasar rasa suka,dan rasa pedulinya pada binatang, tetapi ujung - ujungnya dikomersilkan juga. Setelah dirasa cukup saya jalan - jalan lagi. Waktu hampir menunjukkan setengah sepuluh kami bermaksud kembali kumpul. Dalam mencari tempat ngumpul awal kami salah jalan karena disini agak sepi dan banyak pkl, dan peramal - peramal, pedagang jimat, dan ada lagi yang sebenarnya menarik ingin aku ketahui yaitu pedagang kalender 4000 tahun. Ternyata dalam pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan dikota masih saja tetap ada hal-hal seperti ini. Rasanya lama banget kami berdua muter-muter tetapi belum ketemu juga, aku baru ingat kalau tempat ngumpulnya tadi dekat jalan raya.

Disana masih sepi teman - teman belum datang dan kebetulan Black lewat, aku tanya dia yang ternyata ngumpulnya masih jam setengah 11. Karena masih lama kami jalan lagi tidak sengaja ketemu Aji sama Ike disana kita ngobrol lama. Erna dan Ike pergi wawancara saya juga mau wawancara pedagang asongan tapi di panggil oleh seseorang ternyata temanku waktu masih didesa yang sekarang sudah bekerja di bank mandiri dekat tempat taman Bungkul ini. Sebenarnya sih akan ditraktir tapi berhubung waktunya sudah tidak memungkinkan saya tolak. Di sebelah barat terlihat Aji, Ike, dan Erna bertanya - tanya pada pedangang paruh baya yang cukup ramah, aku tertarik untuk ikut wawancara. Setelah melakukan wawancara kami semua berkumpul. Mas Citra menanyakan lagi apa yang didapat.
Kami semua ada sesuatu yang terlupakan bahwa tempat ini sebenarnya adalah sebuah makam. Pelajarannya adalah jangan menyimpulkan sesuatu terlebih dahulu sebelum tau yang sebenarnya.

Perjalanan dilanjut menuju ke stasiun Wonokromo dengan jalan kaki. Setiba disana terlihat tempatnya yang agak gelap dengan sinar lampu minim, beberapa PKL tampak berjualan di kerumunan orang - orang mayoritas laki - laki dewasa.. Menurut info dari mas Davir dan lainya tempat ini adalah tempat prostitusi ilegal.
Penugasannya oleh mas Davir hanya disuruh melihat dan mengamati. Kali ini saya sama Diyan mendapat giliran kedua untuk mengamati, saat akan masuk TKP kita diperingatkan oleh seorang laki-laki bertubuh besar dan menyuruh kami kembali, karena ini bukan tempat baik-baik katanya. Kami tepis hanya ingin jalan - jalan saja, kemudian dilanjutkan dan berhenti pada sebuah tenda pkl untuk pesan dua gelas kopi panas.

Mataku melihat beberapa WTS dibawah tenda yang menawarkan jasa pijat. Ada seorang pelanggan laki - laki memakai jacket hitam ia terlihat masuk tenda dan ngobrok beberapa menit, lalu wanita itu mengeser kain seperti gorden tapi tidak cukup menutupi semua dari pandangan mata yang ingin melihat, dan diambilnya handbody untuk memijat. Mas Robbi menghapiri kami dan membisikkan supaya mengikuti mas Davir. Saya bayar dan langsung saja menuju tempat mas Davir. Mas Davir menyuruh kita berdua  jalan melewati depan tenda para Tukang pijat.

Sebelum mendekati tenda-tenda itu kami di nasehati agar tidak ketempat itu nanti kena razia oleh wanita berbadan gemuk berbaju merah,celana pendek press body di atas lutut. Bagaimana ya kelanjutan  adegan tadi? Rasa penasaran itu masih ada. Saat melewati tenda - tenda banyak sekali gerombolan laki - laki dengan tatapan mata mesum pada Diyan. Diyan jalanya cepat seperti ingin segera mengakhiri bagian perjalanan ini, tapi aku sedikit memperlambat saat melewati tenda adegan tadi, maklumlah masih penasaran. Aku lirik waw ternyata masih dipijat-pijat punggung pelanggan tadi. Sampailah ditempat awal, tapi tiba-tiba banyak orang berhamburan lari seperti terjadi sesuatu dan mas Davir telpon menanyakan posisi.
Setelah kumpul kembali kita semua disuruh mengikuti yang akhirnya sampai di arah kiri jika menghadap stasiun yang posisinya kurang lebih setengah kilo dari lokalisasi. Disini kembali di uraikan dan diberi pemahaman - pemahaman baru oleh mas Citra dan Deffy.  Karena badan kami sudah capek maka istirahat disini.

Saya terbangun ketika ada suara membangunkan entah siapa orangnya aku lupa, untuk melanjutkan perjalanan. Kita semua berjalan menuju jalan raya dan naik angkot setelah terjadi negosiasi kemudian turun pada sebuah tempat ramai penuh pedagang disekitar rel kereta. Kami dipecah dua - dua lagi untuk mencari tahu sebenarnya tempat apa ini. Setelah jalan beberapa saat saya memutuskan berhenti dan beli roti sekalian untuk sarapan disini pedagangnya ramah - ramah dan tidak segan - segan bercerita. Kemudian jalan lagi disamping kiri saat berjalan dari arah barat ada masjid. Sebenarnya saya menahan rasa untuk buang air mulai dari naik angkot tadi karena sepertinya keadaan tidak memungkinkan aku tahan saja. Di tempat wudlu Aji sedang berdiri tetapi tidak segera wudlu, saat aku masuk ternyata ada toilet tanpa pikir panjang langsung saja saya menuju tempat itu dan Aji pun mengikuti, kemudian saya buka pintu kamar kecil tidak terkunci itu. Tiba - tiba terlihat seorang wanita sedang berak yang marah - marah sambil mengancungkan kepalan tangan. Karena diiringi rasa takut cepat - cepat ambil air wudlu dan shalat. Selesai shalat aku lihat lagi ternyata sudah tidak ada orangnya.
Kami lanjut lagi wawancaranya, rata - rata mereka memberikan jawaban tidak jauh berbeda, mereka semua berdagang Di Desa Kedungrejo Timur ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Setiap hari para pedagang ini harus bangun lebih pagi dari orang pada umumnya karena jam dua pagi harus mulai berjualan, sempat mereka akan direlokasi dengan alasan keamanan tapi mereka tidak mau dengan berbagai alasan. Karena pasar bagi mereka adalah sumber penghidupan.

Waktunya sudah habis dan harus melanjutkan perjalanan lagi ke Terminal Bungur Asih. Kami jalan kaki menuju mushola terminal Bungur Asih. Disana sudah ada senior - senior. Setelah ketemu kita cari sarapan. Sepertinya uang perjalanan tinggal sedikit jadi harus berhemat dari 9 orang cuma pesan 6 bungkus nasi. Untuk makan kita pindah lokasi ke tempat yang agak sepi lalu makan bersama - sama. Sesudah itu kami meriview kembali ada apa sebenarnya di pasar tadi. Oleh mas Deffy dan Citra di katakan bahwa pasar adalah sumber ekonomi kerakyatan tapi sekarang banyak swalayan, supermarket yang akan menghancurkan itu semua, masyarakat dijadikan individualis dengan tidak lagi mau peduli pada sesamanya, misalkan kita memilih membeli di pasar tradisional walaupun harganya sedikit lebih mahal tetapi pedagang tadi lebih membutuhkan uang dari pada pemilik supermarket yang sudah menjamur dimana - mana tetapi keuntungannya hanya akan masuk kanton beberapa orang saja.

Misi terakhir adalah wawancara pedagang, calo, dan pengamen di Terminal ini dengan topik mengungkap permasyalahan yang terjadi. Kami dibagi lagi menjadi beberapa kelompok. Oleh kelompokku saya kebagian mewawancara pedagang. Setelah masuk terminal saya langsung menuju sebuah kios tempat jual makanan dan saya berusaha untuk ngobrol tetapi pedagang wanita itu acuh dan menunjukkan sikap ketidakpeduliannya lewat membaca koran tidak mau melihat saya. Beralih ke tempat sebelah penjaganya masih muda seumuran denganku saya lebih enak untuk bertanya - tanya karena modusku menjadi seorang pencari kerja. Saat pertanyaanku aku arahkan pada preman, kejahatan, copet, ekspresi wajahnya berubah lalu mengalihkan topik pembicaraan. Sampai dua pedagang berikutnya sama saja jawabanya dan aku menangkap bahwa di Terminal ini ada ketidak beresan.
Sudah waktunya kita kembali dan harus kumpul lagi untuk koreksi. Hasilnya ternyata kurang memuaskan kita semua dapat info hanya karena kasihan tutur mas Citra.

Tawaran sebuah game yang  tidak pernah terduga adalah dengan klu salah satu semua menanggung. Kami sepakati saja awalnya saya berfikir akan diberikan sebuah pertanyaan atau tebak tebakan. Mas davir sama Ginan terlihat pergi dulu kami semua siap - siap kesebuah hotel katanya. Tiba-tiba mas Davir dan Ginan datang lagi dengan wajah cukup serius mengatakan kalau ada lpm Tulungagung sedang diklat dan kita harus ada perwakilan yang menemuinya tapi yang bawa uang. Mas Davir menawarkan padaku, kebetulan masih ada uang di dompet saya. Tawaran itu aku iyakan bersama Diyan, mas Davir memberi saya kunci motor untuk dibawa dan mengikutinya. Tibalah disebuah gang kecil dan mereka berhenti lalu turun memberikan uang sepuluh ribu sambil bilang, “kamu belikan air mineral sama rokok surya ya!” Tanpa pikir panjang langsung menuju indomaret yang tepat berada di depan kami. Sesudah bayar dikasir sempat saya bilang sama Diyan kita tadi kan dapat materi pasar bagaimana jika di buang bungkus sama lebel indomaretnya, tapi ini sepertinya bukan hal penting untuk dipikirkan sampai jauh kesitu, yang penting kita dapat. Sebelum kembali mas Davir menawari aku makan sambil menunjuk pada sebuah warung tapi aku tidak begitu peduli karena barang yang dicari sudah dapat. Saat mau naik motor balik  aku takut sebab jarang sekali mengemudikan motor dikota. Diyan sekarang yang mengemudikan tapi timbul kejanggalan dalam fikiranku saat kita kembali ketempat kita nongkrong tadi yang seharusnya kita menemui anak diklat dari LPM lain. Benar juga disana kita jadi bahan tertawaan dan ternyata gamenya adalah beli air dan rokok tadi yang seharusnya ditoko kecil samping indomaret. Saya malu pada diri saya mengapa begitu mudahnya melupakan materi yang telah di berikan tadi.

Adzan sudah berkumandang artinya sudah masuk waktu dzuhur kita semua akan memgunjungi yang namanya rumah lalat tempat semacam sekret kalau di UTM. Kita naik naik bus kota, beberapa saat kemudian tidak terasa aku tertidur, dan terbangun dengan sedikit kaget saat mas Novi menepuk lenganku untuk memberi tahu kalau sudah hampir sampai. Kata azis ini adalah IAIN SUNAN AMPEL Surabaya sesaat setelah turun dari bus. Saya berjalan mengikuti teman - teman dari belakang. Kita masuk lewat gang - gang kecil yang akhirnya sampai pada sebuah rumah yang banyak lalat di terasnya, di dalam para senior sedang istirahat.
sampai malam kegiatannya nyantai ngobrol-ngobrol sama mas Deffy, Bejat, dan yang lainya. Kira-kira sudah hampir pukul 23.00 kita semua kembali ke Madura dengan naik Bus kota. Sampai Perak langsung cari ticket kapal kata petugasnya ini kapal terakhir jadi harus cepat. Kami semua berlari takut ketinggalan. Ternyata kapal berangkatnya masih agak lama. Saya merasa capek dan tertidur pada posisi duduk, lalu bangun dan harus naik angkot. Di angkot saya juga tertidur sampai pada pertigaan kampus baru bangun. Karena badan sudah cukup capek dan besok ada kuliah pagi saya jalan duluan ditemani oleh azis, kemudian aku ajak dia tidur di kostku saja dari pada disekret penuh. Diapun mau, kita berbelok di pertigaan dan sampailah di kamar kost lalu kita tidur.
The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar