Selasa, 22 Oktober 2013

RESENSI "TEORI SOSIAL KRITIS" BEN ANGGER


Gambar

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu tergantung dengan orang lain. Dengan bersosialisasi melalui interaksi sosial sebagai jembatan penghubung antara sesama manusia. Dari interaksi itu lalu muncul sebuah kelompok sosial atau golongan-golongan yang menjadi sekat pengklasifikasian. Entah terbentuk dari persamaan suku, ras, nasib, dan pemikiran. Diantara sekian banyaknya jumlah penduduk bumi muncullah orang-orang yang mampu berfikir dan memikirkan nasib oriaentasi terbaik umat manusia saat itu dan mendatang yang tertuang dalam sebuah teori sosial.


Setiap teori-teori dan paham yang berkembang dari suatu tokoh maka muncul pula tesis-tesisnya yang menjadi penguji apakah teori itu tetap bertahan atau malah teerdegradasi oleh dinamika waktu dan perubahan masyarakat.

Semakin lamanya waktu bumi berputar menjadikan regenerasi manusia itu sendiri yang diiringi teori-teori sosial baru  dan terbagi dalam masa-masanya. Sudah menjadi keharusan bila ingin sebuah pemikirannya diakui secara kualitatif harus pula mengkaji teori-teori lain terdahulu. Dalam buku ini teori-teori dan paham populer dunia saling dibenturkan. Sehingga lebih dari cukup untuk membuat anda bingung membedakan mana yang benar. Maklumlah bahwa dalam ilmu sosial tidak mengenal kata salah yang ada hanya ang sesuai atau tidak. Ada kalanya pula teori satu dengan teori lainya saling tumpang tindih, perlu diketahui suatu teori dibuat untuk meluruskan keinginan masyarakat atau golongan sosial masyarakat agar diamini oleh semua kalangan di dunia. Begitu pula dalam teori sosial kritis menyoroti secara menyeluruh pola perilaku sosial masyarakat yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh paham-paham tertentu.

Saya mengambil salah satu isi dalam buku ini untuk menggambarkan bahwa teori sosial kritis adalah teori yang digunakan manusia modern. Disini dijelaskan bahwa feminisme adalah paham yang mempegaruhi perubahan status dan posisi perempuan sebagai bentuk perlawanan dari teori patriarki yang berkembang lebih dulu. Kesetaraan yang diperjuangkan meliputi semua aspek termasuk penentuan penyaluran hasrat seksualnya apakah ingin menjadi homoseksual, heteroseksual , gay, atau lesbian. Ini semua secara tidak langsung menjadi ranah sosiologi karena mempelajari masyarakat sebagai subjek utamanya, dan tentunya digali dari sisi epistimologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar